fbpx

Gig Tanjung Lesung: Tsunami, Kunci Mobil, RSPP

Di pikiran gue cuma satu, gue harus selamat. Gue mau hidup.

22 Desember 2018, ombak tinggi Selat Sunda meninggalkan cerita naas bagi kita semua. Mara bahaya bernama tsunami telah merenggut lebih dari 400 nyawa. Dari mereka yang tinggal, atau hanya sejenak di sana, di pesisir pantai.

Bagi yang percaya, pasti sepakat bahwa nyawa ada di tangan Yang Mahakuasa. Musibah tsunami Selat Sunda tentunya menegaskan konsep berpikir tersebut, mengingat tidak ada nya tanda-tanda jikalau alam sedang murka. Semua terjadi begitu saja, tiba-tiba.

Begitu juga dengan yang dialami Rizki Soerja Negara, seorang produser dan DJ muda paruh waktu yang tergabung dalam kolektif Konsumma. Ia pada hari itu bersama kekasih dan dua orang temannya harus tancap gas ke Tanjung Lesung, Banten. Guna memenuhi panggilan sebagai pengisi acara pada gathering karyawan PLN (Persero), bersama dengan band asal Jakarta, Seventeen.

Tiga puluh hari setelahnya, tim Frekuensi Antara mendapat kesempatan untuk mendengar langsung tutur cerita dari Rizki dan kekasihnya, Fitria. Di satu co-working space di bilangan Bangka, Jakarta Selatan, Rizki dengan beberapa titik lebam di balik lengan bajunya mulai bercerita. Diteruskan oleh kekasihnya, Fitria.



Cerita ini telah ditulis ulang dari pengalaman langsung narasumber. Semua informasi yang tertulis langsung di parafrase dari rekaman wawancara.

Tawaran untuk main di acara gathering PLN di Tanjung Lesung itu muncul dadakan. DJ langganan mereka berhalangan, dan waktu itu gue pikir lumayan bisa sekalian jalan-jalan. Rencana awalnya untuk pulang-pergi bareng Fitria dan teman-teman gue, Lutfhi dan Bagas.

Berangkat dari Jakarta siang hari, kurang lebih jam 11. Menuju lokasi acara di Tanjung Lesung Beach Hotel, perjalanannya cukup panjang. Setelah menghabiskan waktu lama di mobil, untuk sampai di hotel langsung kepikiran untuk ke kamar, berberes barang dan lain-lain. Kedatangan kita disambut oleh salah satu anggota panitia, yang kebetulan teman-nya teman gue. Ternyata kamar tersebut sebuah cottage, berukuran lumayan besar, dua lantai. Rencana kita berubah untuk menginap

Rencana tampil gue pas hari itu, seharusnya dua kali. Sekali untuk mengiring acara makan malam di jam setengah enam, dan sekali lagi setelah band Seventeen. Waktu mepet, gue sampai jam setengah lima sore. Jadi gue menunggu di sekitar panggung sampai dipanggil. Dan tepat waktu, gue dipanggil oleh panitia untuk naik panggung.

Karena set gue harus berhenti pas azan maghrib, waktu itu gue pakai untuk turun ke pantai yang jaraknya enggak jauh. Teman-teman gua disana, mereka keliling dan menikmati pemandangan saat gue di panggung.

Hari itu pantai dan cuacanya lagi bagus banget, kebetulan lagi sunset. Pemandangan pesisir pantai terlihat jelas anak Gunung Krakatau yang udah berasap. Kita enggak sendiri di pantai, ada banyak orang lain disana untuk lihat anak Krakatau di pinggir pantai. Enggak lama, mulai kelihatan lava dari Krakatau, sangat jelas dan menyala. Kita hanya kepikiran bagusnya pemandangan saat itu, jarang punya kesempatan untuk lihat aktifitas alam yang seperti itu.

Gue kembali ke panggung dan menyelesaikan set gue di jam delapan malam, lalu langsung turun panggung untuk break dan makan malam. Acara lanjut dengan games MCnya—Aa Jimmy—dan band Seventeen. Gue langsung balik ke cottage untuk nyantai-nyantai cukup lama. Karena sekitar jam setengah sepuluh chat dari panitia masuk; untuk ke backstage, briefing sebelum penutupan acara.

Jarak cottage dan panggung sekitar 200 meter dari cottage kita, gue langsung siap untuk berangkat kesana. Saat itu Bagas, mau nemenin gue. Gue bilang enggak usah dan jalan sendiri ke panggung. Melewati samping tenda tamu dan langsung ke dekat backstage.

Berposisi di sebelah kanan panggung, gue menghadap pantai. Ombak yang tinggi banget—mungkin sekitar empat meter— mengarah ke panggung. Gue beku dan enggak percaya sama apa yang gue lihat, karena memang gelap banget. Tiba-tiba ada suara ibu-ibu yang teriak histeris. Teriakan semua orang lain menyusul setelahnya.

Gue langsung sadar apa yang sedang terjadi. Gue balik badan untuk mencoba lari. Semua suara yang tadinya ramai tiba-tiba hilang dalam sekejap. Baru beberapa langkah gue lari, ombak itu langung menghajar.

Gue masih sadar saat itu, dan saat hanyut terseret arus, gue mencoba tenang dan tahan nafas. Pertama, pikiran gue untuk cari pegangan, apapun yang bisa nahan biar enggak kebawa arus.

Ombaknya tinggi, betul-betul tinggi. Yang jelas kaki gue enggak menyentuh tanah, dan tangan gue enggak sampai ke permukaan. Lengan, kaki, dan sisa badan gue terbentur banyak banget benda. Tapi gue enggak bisa ngerasain apa-apa. Di pikiran gue cuma satu, gue harus selamat. Gue mau hidup.

Kebayang? Disitu enggak bisa lihat apa-apa, airnya keruh warna hijau. Gue coba buka mata di dalam air, dan samar-samar gue lihat ada pohon di di depan gue. Enggak tau benar atau enggak, tapi gue coba meraihnya.

Berhasil berpeluk ke batang pohon yang masih kuat, gue coba sebisa mungkin berpegang untuk enggak kebawa arus. Gagal, ombak susulan dateng menghantam lagi. Pegangan erat itu lepas, dan gue kembali hanyut terbawa arus.



Waktu rasanya sangat relatif ketika ada di kondisi seperti itu. Sebentar ataupun lama, gue enggak tahu. Begitu juga soal tempat, apa gue masih ada di lokasi yang sama atau gue sudah di tengah laut. Sampai akhirnya penglihatan gue mulai buram, dan hampir pingsan karena kehabisan napas. Mencoba untuk logis, tapi gue udah enggak bisa ngelakuin apa-apa kecuali ngangkat tangan setinggi mungkin.

Ada satu benda yang nabrak tangan gue, dan gue coba tarik sekuat mungkin, ternyata enggak tenggelam. Sampai gue akhirnya berhasil menaruh kepala di atasnya. Terserah mau kemana ombak dan benda itu ngebawa badan gue, yang jelas gue akhirnya bisa bernapas.

Terus dan terus, badan gue terseret ombak entah kemana. Hingga satu titik kaki gue terseret di tanah. Pikiran gue saat itu kalau ini sudah dekat daratan. Sekuat mungkin gue menapak dan ngelawan arus. Perlahan ombak semakin rendah, hingga hanya setinggi hidung.

Sampai hari ini gue enggak tahu, apa yang berhasil membawa gue sampai bisa kembali menapakkan kaki. Gue pun ngelepas benda itu, yang gue anggap malaikat. Air pun semakin cetek, dan gue sampai ke daratan.

Selamat dari tsunami. Terdampar di lokasi yang sama, tapi suasananya jauh berbeda. Enggak ada penerangan sama sekali kecuali purnama. Gue lihat ada seorang bapak, rambutnya gondrong, bajunya compang camping, dan berlumuran darah. Gue bertatap mata sama dia, mungkin sekitar 10 detik. Dia enggak bergerak.

Gue berdiri dan jalan, mencoba mencari tahu di mana persisnya gue sekarang. Melihat ke kanan, gue lihat ada cottage nomor 209. Takjub, ini keajaiban. Karena cottage gue dan teman-teman nomor 208, persis disebelahnya. Langsung terpikir nasib mereka semua, nama-nama mereka gue teriakin satu persatu. Enggak lama mereka teriak nama gue. Berkat sebuah senter handphone, akhirnya kita bisa ketemu.


Pas Rizki dipanggil briefing, gue dan yang lain memang berencana buat nyusul kesana. Tapi nanti, karena kita mau santai-santai dulu sambil siap-siap. Enggak lama kemudian lampu cottage mati, gue pikir pemadaman. Waktu itu satu temen gue denger suara gemuruh dan dia buka pintu. Gue lihat dia enggak bergerak.

“Demi Allah.. tsunami!”, teriaknya dan langsung lari ke dalam. Satu teman gue yang lain buka pintu belakang cottage, dia langsung mental dihajar ombak. Lantai satu cottage kita dipenuhi air. Mendadak gue enggak bisa mikir, hanya bengong dan jadi orang bodoh. Yang ada dipikiran gue cuma satu, Rizki.

Teman-teman gue teriak manggil-manggil gue untuk naik, dan langsung ditarik mereka buat berlindung di lantai dua. Gue masih dalam kondisi yang sama, enggak tahu harus berbuat apa.

Enggak lama kita di atas, temen gue buka jendela untuk lihat kondisi di luar. Air mulai tenang, kita langsung coba untuk turun ke bawah.

“Selamatin semua barang yang penting!”, teriak teman gue.

Paling penting saat itu pastinya adalah kunci mobil. Karena cuma itu yang bisa bawa kita keluar dari sini. Dan satu hal ini bikin gue takjub banget; di tengah kerusakan cottage yang parah dan air yang tinggi, coffee table tempat gue taro kunci mobil dan laptop enggak kenapa-kenapa. Aneh banget.

Enggak pakai sepatu ataupun sandal, kita keluar untuk dua hal. Cari Rizki dan bawa dia ke mobil. Seorang teman gue yang handphone nya masih berfungsi menyalakan senter. Kita di luar cottage teriak  dan panggil-panggil Rizki. Dan enggak lama, suaranya kedengeran.

Panik muncul saat Rizki enggak teriak nama kita, tapi teriak minta tolong. Waktu kita ketemu kepalanya udah penuh darah. Satu teman gue langsung bopong Rizky, dan kita berempat langsung jalan ke mobil. Serem banget, air masih tinggi, dan kita enggak tau benda apa aja yang mungkin bisa kita injak. Arus balik juga masih berat, susah jalannya. Tapi kita harus ke mobil.

Menuju ke parkiran kita lewat banyak barang-barang yang mengambang. Di area lobby, suara telepon enggak berhenti-berhenti, semua orang panik. Di ujung jalan, ada perempuan yang bawa lampu minyak, kepalanya penuh darah, jempol kakinya putus. Pemandangan serem banyak di sepanjang jalan.


“Papa dimana?”

“Ibu dimana?”

“Tolong!”

Itu suara-suara paling banyak yang kita dengar sebelum sampai di parkiran.



Dari sekian banyak mobil yang rusak, mobil gue selamat. Kita bawa Rizki masuk ke dalam. Nyalakan mobil untuk langsung pergi, tapi ternyata ada mobil hanyut yang ngalangin. Kita coba geser dan berhasil keluar dari area parkir.

“Fit, kita mau coba nyelamatin orang?”, tanya satu teman gue.

Memang di sebelah kita ada satu keluarga. Seorang bapak, ibu, dan dua orang anak. Kita ajak mereka untuk naik ke mobil dan pergi ke area evakuasi.

“Gimana pak? Keluarga lengkap?”, tanya gue.

“Alhamdulillah lengkap. Saya juga cuma keseleo saja, tapi ini anak-anak saya yang luka-luka. Bisa kita cari tempat berobat?,” kata bapak itu.

Kita lewat jalur evakuasi di area bukit. Sampai di sana, baru terlihat tangan bapak itu yang ternyata bukan keseleo. Tapi patah, bengkok ke arah yang salah. Kita coba bawa keluarga itu berobat di Jakarta, karena mereka ternyata rumahnya di Tangerang, mereka nolak dan milih untuk berobat di area evakuasi.

Kita berpisah sama keluarga itu dan langsung balik ke Jakarta. Lewat jalur pulang yang pasti melintasi pesisir pantai juga, takut sebenarnya ada tsunami susulan. Untungnya kita bisa sampai di Jakarta, RS Pusat Pertamina. Semua orang di sana kaget lihat kita, sepertinya belum ada info kalau tsunami baru aja terjadi di Tanjung Lesung.

Rizki enggak banyak luka, hanya kuku tangannya yang patah paling menyakitan. Kita semua yang selamat juga sangat terpukul setelah mendengar berita tentang jumlah korban tsunami Selat Sunda. Termasuk diantaranya para panitia acara yang sangat baik dan telah menjadi teman kita selama di Tanjung Lesung.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Perform...

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Visualisasi Lagu dengan Fotografi bersama Bikin Ru...

Bikin Ruang menggelar pameran foto dengan tema visualisasi lagu, berkolaborasi d...

Garapan Kolaborasi “Bali Project” oleh Sekeha ...

Pada saat itu hujan lebat, gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara...