fbpx

Tumpengan bersama Lazy Susan

Ternyata tumpeng banyak jenis nya.

Tanggal 3 Februari kemarin, digelar sebuah acara bertema kuliner dengan format yang tidak biasa. Bukan hal nya sebuah bazar makanan di mana berdiri sejumlah stand penjajak hidangan khas. Melainkan sebuah acara tumpengan di Hatchi, Pondok Indah yang digelar untuk merayakan rilisan zine pertama milik kolektif pecinta kuliner, Lazy Susan.

Pada rilisan pertamanya yang bertemakan ‘Selebrasi’, Lazy Susan memperkenalkan kita lebih dalam  dengan hidangan yang identik dan bersifat wajib untuk sebuah perayaan. Tidak lain tidak bukan adalah tumpeng.

Sajian yang dikenal karena presentasi unik nya yang menyerupai gunung ini ternyata memiliki banyak varian. Dimana setiap variasi memiliki arti berbeda, meski bentuknya saling menyerupai. Seperti tumpeng Kampurantau yang berarti permintaan maaf, atau tumpeng Kendhit yang mengandung makna upaya menolak bala.

Yang juga menarik dari Suzine 001 (nama zine yang dirilis) adalah dilibatkan nya 18 ilustrator untuk menggambarkan berbagai jenis tumpeng. Beberapa nama seperti Kareem Soeharjo, Ryo Bodat, Ssharinka dan, Popo Mangun ikut menyumbang karya untuk mengisi halaman tengah majalah tersebut. Sederet gambar tumpeng hadir dalam intepretasi dan karakter masing-masing ilustrator.

Seperti majalah kuliner pada umum nya, halaman rekomendasi pasti menjadi halaman yang banyak ditunggu. Mengingat rekomendasi selalu menarik untuk menambah kamus tujuan kuliner. Dalam zine ini, Lazy Susan juga merekomendasikan beberapa tempat yang mungkin belum banyak dicoba ataupun diketahui. Dari kuliner tradisional hingga modern. Sangat menarik untuk dicoba. 

Seperti hal yang dibahas dalam lembar-lembar zine seharga 175 ribu Rupiah tersebut, acara rilis kemarin juga menghadirkan sajian nasi tumpeng. Uniknya, racikan minuman khas Indonesia dengan sentuhan barat ala Lazy Susan juga bisa dinikmati di sana. Dimana racikan bahan-bahan nasi tumpeng disulap menjadi jamu cocktail. Hal ini menambah satu lagi pengalaman unik bagi mereka yang datang, makan dan “minum” tumpeng.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Perform...

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Visualisasi Lagu dengan Fotografi bersama Bikin Ru...

Bikin Ruang menggelar pameran foto dengan tema visualisasi lagu, berkolaborasi d...

Garapan Kolaborasi “Bali Project” oleh Sekeha ...

Pada saat itu hujan lebat, gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara...