fbpx

Visual Dunia Gemerlap dan Komersialisasi dari Pandangan Ryo Monkey Bar

Harmonisasi Visual dan Suara



Gemerlap dunia malam Kota Medan selalu diisi dengan dentuman kencang dan keras dari musik EDM yang dimainkan oleh seorang DJ di sebuah klub malam atau bar di pusat kota tersebut. Namun, dunia gemerlap tersebut juga tidak lengkap tanpa visualisasi layar dan cahaya di klub malam yang diatur oleh seorang Visual Jockey atau VJ.

VJ merupakan perancang visual dan cahaya yang dilakukan secara real-time, dengan fungsi untuk mengiringi musik yang diputar oleh seorang DJ. Visual-visual tersebut diatur seirama dengan musik yang dimainkan oleh DJ. Tanpa VJ, visual yang mendukung musik tidak terasa lengkap oleh pengunjung klab malam. Menjadi VJ pun harus memiliki kemampuan untuk berimajinasi dengan tepat dan penguasaan program yang didedikasikan untuk memanipulasi visual tersebut.

Hal ini diungkapkan oleh Ryo Purba, seorang Visual Jockey yang sudah lama melanglang buana di dunia gemerlap untuk membuat, mendesain, dan mengatur visual dan cahaya di klab malam. Dulu, Ryo melakukan semua ini di Entrance. Tapi, setelah klab malam tersebut tutup, sekarang Ryo menjadi penanggung jawab utama untuk urusan visual dan cahaya di Monkey Bar. “Aku udah jadi VJ dari 2009 di Entrance; dari awal buka sampai sekarang udah tutup. Awalnya, aku penanggung jawab untuk urusan sound engineering, sih, di klub itu, dan menjadi VJ utama dari 2013,” ujar Ryo. Selain menjadi resident VJ di Monkey Bar, dia juga pernah menjadi VJ untuk Yellow Claw (saat mereka main di klub Retrospective), Al Ghazali, DJ Yasmin, dan jadi VJ untuk launching Mitsubishi Xpander. Menurutnya, menjadi VJ membutuhkan tangan cepat untuk bisa menampilkan visual yang harmonis dengan lagu yang diputarkan DJ. “Yah, yang pasti, selain harus menguasai program khusus VJ, kayak Resolume dan Adobe After Effect; komputer yang mumpuni dari segi fitur, kayak prosesornya harus i7 dan RAM minimal 16GB, tangan kita juga harus cepat dan harmonis dengan lagu yang dimainkan oleh DJ juga.” Menurut Ryo, pekerjaan VJ jadi kenikmatan tersendiri, karena bisa mengeksplorasi dan mengatur visual di klub malam. Di samping itu, gaji yang ditawarkan untuk menjadi seorang VJ juga lumayan. “Yah, minimal sebulan dapat di atas 3 juta-an, lah. Di samping itu, kami juga sering dipanggil untuk acara-acara launching produk, dan biasanya dapet satu juta-an untuk satu event yang berdurasi 2-3 jam. Yang menjadi kekurangan dari pekerjaan ini adalah harus tahan bergadang aja,” ungkapnya lagi.

Menurut Ryo, peminat VJ di Medan juga sudah besar, karena banyak yang minta belajar dengannya. “Peminat pekerjaan ini sebenernya cukup besar, sih. Tapi, demand untuk menggunakan jasa ini kurang, karena nggak banyak klub atau bar yang punya peralatan mumpuni untuk menunjang pekerjaan ini. Dan, hal ini terkendala oleh mahalnya alat tersebut. Jadi, kalau masalah visual di klub atau bar di Medan, pemilik bar atau klub biasanya kurang memperhatikan masalah visual atau cahaya di tempat yang mereka miliki, sih,” tutupnya.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Perform...

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Visualisasi Lagu dengan Fotografi bersama Bikin Ru...

Bikin Ruang menggelar pameran foto dengan tema visualisasi lagu, berkolaborasi d...

Garapan Kolaborasi “Bali Project” oleh Sekeha ...

Pada saat itu hujan lebat, gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara...