fbpx

waft lab: Teliti lan Telaten

Parade Cahaya di Lokasantri.

Ini adalah usaha saya untuk ‘titen’. Bahasa Jawa dari ‘mengingat’, hal yang beberapa tahun ini tidak saya lakukan karena memang tidak banyak yang perlu diingat dalam hidup saya akhir-akhir ini. Tapi tentunya itu soal lain.

 

Diawali dari undangan seorang kawan dari masa lampau, Helmi Hardian, yang bersamanya saya memulai kolektif seni lintas disiplin, Waft Lab, di Surabaya pada tahun 2011. Undangannya mengingatkan saya akan masa-masa itu. Masa berkesenian yang riang. Hanya ada sekarang dan senang. Tapi tentunya itu soal lain lagi.

Saya diundang untuk menulis acara Titen, kependekan dari Teliti lan Telaten, lokakarya seni cahaya. Menulis apa? Ya ndak tahu. Acara yang bekerja sama dengan Mendikbud ini digeber selama 5 hari dengan materi lokakarya seni media yang sungguh terlihat njelimet jika dilihat dari jauh. Pesertanya campur aduk, dari bapak-bapak pelatih guru di Jawa Timur, mahasiswi yang resah akan peranan perempuan di kampusnya, seniman konseptual, pegiat teater kontemporer hingga murid sekolah menengah kejuruan yang terampil berjoget. Mereka dengan latar belakang tidak melulu seni ini yang menarik. Mereka cenderung berbekal ketertarikan pada seni atau bisa dibilang organik, menurut istilah kurator asal Jember, Ayos Purwoaji.

Keorganikan tersebut adalah salah satu kelebihan Surabaya. Seperti yang lazim diketahui dan sejak dahulu menjadi keresahan pemuda pemudi lokal sendiri, ekosistem seni di kota ini tidak begitu baik. Pasar seni tidak pernah berhasil diciptakan dengan ajeg. Para kolektor pun bermain aman dengan hanya mengoleksi karya-karya seni konvensional. Bisa jadi hal ini juga disebabkan karena Surabaya telah dirancang sebagai kota bisnis sehingga tidak pernah menjadi pusat kebudayaan adiluhung. Hanya ada budaya urban yang kampungan di tempat ini.

Tapi lalu kenapa? Seorang teman yang bukan dari Surabaya dan hanya mengenal orang-orangnya selintas mengatakan jika orang Surabaya itu angkuh. Tentu saja, saya pikir. Orang-orang pesisir ini lebih baik bersikap angkuh dan tidak menyerah pada situasi daripada menunduk pada kondisi. Mereka memilih untuk merengkuh semboyan kota bisa jadi berkuasa, tetapi manusia yang menentukan. Mereka yang dianggap kampungan itu membentuk kolektif tanpa ideologi di sana-sini dan bersenang-senang tanpa tujuan. Mereka dengan kecerdasan ‘embongan’ (bahasa Jawa Timur dari ‘jalanan’) yang dimilikinya berusaha mengakali sistem dan mempraktikkan sains jalanan.

Sama halnya dengan yang dilakukan Waft Lab pada Titen. Tentu ini bukan lokakarya seni media pertama yang mereka inisiasi. Tetapi ini kali pertama saya melihat dan sedikit terlibat dalam lokakarya Waft Lab. Bagi saya yang telah beberapa tahun meninggalkan Surabaya dan dengan itu pula meninggalkan Waft Lab, segala yang dulu akrab jadi terasa baru dan karena itu sungguh seru. Dalam bayangan saya, saya merasakan hal yang sama seperti para peserta Titen, belajar seni media bersama teman-teman baru di tempat baru. Seorang peserta bahkan melontarkan pernyataan, “Ini workshop paling gila yang pernah saya ikuti!” sembari terus berjoget karena ada salah satu agenda di mana para peserta meng-install karya mereka di sebuah bar kecil di perumahan Citraland, setelah sebelumnya kami naik kereta odong-odong dengan mengenakan kacamata psikedelik untuk menikmati lampu kota.

Pernyataan itu bisa jadi benar. Waft Lab dengan teliti dan telaten memasukkan detil-detil kultur lokal pada Titen. Dimulai dari pemilihan nama dan desain poster yang njawani, lokasi lokakarya yang berada di kampung yang dikepung perumahan di kawasan Lakarsantri hingga pertunjukan barong di tengah tanah kosong dengan diiringi musik elektronik kejawen dan visual dari busa sabun pel. Bisa dibayangkan bagaimana kontrasnya belajar memprogram arduino di antara kokok ayam kampung dan udara panas menyengat khas pinggiran Surabaya.

Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa cahaya? Waktu saya tanya Helmi, dengan tersenyum kecil dia bilang, “Karena itu yang laku”. Sungguh sikap rendah hati khas Surabaya yang tidak bakal bisa dilihat orang yang hanya sekilas mengenalnya. Di balik ke-melulu-senang-senang-an dan sikap rileksnya teman-teman Waft Lab, saya tahu ada semangat menyala untuk selalu mencari tahu.

 


Seperti cahaya yang membuka gerbang menuju pengetahuan dan menyalakan peradaban. Al ilmu nurun.


 

Sejak jaman renaisans, para seniman gemar mengeksplor cahaya. Nampak dari karya-karya mereka di kaca-kaca gereja atau lukisan-lukisan klasik yang mengekspos cahaya sehingga menimbulkan efek psikologis tertentu jika menikmatinya. Cahaya yang tidak pernah mereka dapat berlebih itu merupakan representasi Tuhan yang karenanya ditempatkan di tempat-tempat mulia, menurut mereka.

Tapi seniman Indonesia ternyata punya pendapat lain. Di negara tropis dengan dua musim ini, cahaya matahari selalu bisa dinikmati. Maka seniman-seniman tersebut lebih memilih untuk berbicara melalui ketiadaan cahaya atau bayangan. Namun masih pula dalam konsep yang sakral. Bisa dilihat dari karya klasik seperti pertunjukan wayang di mana penonton menikmati bayangan wayang yang dimainkan dalang, yang terkadang beraksi hingga kesurupan.

Seiring waktu dan pergeseran nilai, seniman mengeksplor cahaya dengan ide lebih luas dan tidak selalu dalam konteks pemujaan pada hal tertentu yang dianggap agung.

Seluruh karya bisa dinikmati selama sekitar satu jam sebelum akhirnya dikemasi. Penutupan pun berjalan syahdu dengan alunan lagu dari Sabian, sebuah gimmick lain dari rangkaian acara. Lalu tak hanya peserta, para pengampu Waft Lab juga, saya yakin, membawa cahaya baru dan kesan yang dalam atas Titen.

Maka pada akhirnya, seni adalah salah satu cara untuk menjaga agar hidup tetap menyala. Semoga jalan kita semua tetap terang hingga gelap menghampiri, nanti.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Arti Leftfield, Sekedar Genre atau Lebih?

Walaupun sejarah kata tersebut muncul dari olahraga orang asing, yang mungkin en...

Pendekatan Intim Kolektif di Banjar Campout 2018

Perhelatan kedua dari Banjar Campout kali ini berlangsung di sebuah Area Perkema...

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Memadai Pendengar Psytrance di Jakarta dengan Natura

Lantunan suara bass dan kick konstan berdegup cepat seperti gemuruh suara kaki k...